Daftar Isi
Toggle561voice.com,05-04-2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Geopolitik dunia terus berubah seiring berjalannya waktu, dengan berbagai wilayah yang memperjuangkan kemerdekaan atau pembentukan negara baru. Banyak negara yang saat ini telah terpecah atau sedang dalam proses pemisahan, dan meskipun tantangan untuk membentuk negara baru sangat besar, ambisi ini tetap hidup di banyak bagian dunia. Artikel ini akan mengulas 10 negara baru yang kemungkinan besar akan terbentuk dalam waktu dekat, dengan memperhatikan latar belakang, alasan, serta tantangan yang dihadapi oleh masing-masing wilayah yang sedang berjuang untuk kemerdekaan.
1. Skotlandia
Skotlandia telah lama menjadi wilayah yang memperjuangkan kemerdekaan dari Inggris. Sejarahnya yang terpisah dari kerajaan Inggris dimulai dengan Scotland Act 1707, yang menggabungkan Skotlandia ke dalam Kerajaan Inggris dan membentuk Kerajaan Inggris Raya. Meskipun demikian, dorongan untuk kemerdekaan Skotlandia tetap ada, terutama setelah referendum kemerdekaan pertama pada tahun 2014. Hasil referendum tersebut memutuskan bahwa 55% dari warga Skotlandia memilih untuk tetap bersama Inggris, namun 45% memilih kemerdekaan. Angka yang cukup signifikan menunjukkan bahwa keinginan untuk merdeka tetap kuat.
Setelah Brexit, di mana Inggris keluar dari Uni Eropa (UE), Skotlandia yang lebih cenderung mendukung tinggal di dalam UE merasa semakin terasing dari kebijakan pemerintah pusat di London. Partai Nasional Skotlandia (SNP) yang memimpin kampanye kemerdekaan terus mendorong agar diadakan referendum kedua. Mereka berargumen bahwa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa persetujuan dari Skotlandia adalah alasan kuat bagi mereka untuk memisahkan diri. Keinginan ini semakin diperkuat oleh rasa ketidakpuasan terhadap kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Inggris. Jika referendum kedua berjalan dengan lancar dan hasilnya mendukung kemerdekaan, Skotlandia mungkin akan segera menjadi negara merdeka di masa depan.
2. Katalonia (Spanyol) 
Katalonia adalah salah satu wilayah di Spanyol yang sangat ingin memisahkan diri dan mendirikan negara merdeka. Konflik ini telah berlangsung lama, tetapi mencapai puncaknya pada tahun 2017 ketika pemerintah regional Katalonia mengadakan referendum kemerdekaan yang sangat kontroversial, yang kemudian diikuti oleh deklarasi sepihak kemerdekaan. Pemerintah Spanyol segera menanggapi dengan keras, mengirimkan pasukan ke wilayah tersebut dan membubarkan pemerintahan regional Katalonia, serta menangkap beberapa pemimpin separatis. Meskipun demikian, keinginan untuk kemerdekaan tetap hidup di kalangan banyak warga Katalonia yang merasa bahwa identitas budaya, bahasa, dan sejarah mereka berbeda dengan Spanyol.
Gerakan kemerdekaan Katalonia didorong oleh beberapa faktor, termasuk ketidakpuasan terhadap kebijakan fiskal pemerintah pusat yang dianggap tidak adil terhadap wilayah tersebut, serta ketidaksetujuan terhadap peran Spanyol dalam Uni Eropa. Katalonia adalah wilayah yang sangat kaya dan berkembang pesat di Spanyol, dan sebagian besar rakyatnya merasa bahwa mereka bisa lebih baik mengelola ekonomi dan pemerintahan mereka sendiri tanpa campur tangan dari Madrid. Walaupun pemerintah Spanyol terus menekan dan membatasi gerakan ini, peluang bagi Katalonia untuk meraih kemerdekaan pada akhirnya tetap terbuka, meskipun harus melalui proses politik yang panjang dan penuh ketegangan.
3. Taiwan 
Taiwan adalah salah satu contoh paling jelas dari ketegangan geopolitik yang mempengaruhi pembentukan negara baru. Secara de facto, Taiwan telah berfungsi sebagai negara merdeka sejak 1949, setelah pemerintah Republik Tiongkok (ROC) melarikan diri ke pulau ini setelah kalah dari Partai Komunis dalam Perang Saudara Tiongkok. Meskipun Taiwan memiliki pemerintahan yang terpisah, sistem politik yang berbeda, serta ekonomi yang maju, Tiongkok menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Pemerintah Tiongkok, yang dipimpin oleh Partai Komunis, menentang keras segala bentuk pengakuan internasional terhadap Taiwan sebagai negara merdeka dan terus berusaha untuk mempersatukan Taiwan dengan daratan Tiongkok.
Taiwan, di sisi lain, berpendapat bahwa mereka memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Penduduk Taiwan sebagian besar mendukung status quo, dengan beberapa dari mereka mendukung kemerdekaan penuh, terutama generasi muda yang lebih terlibat dengan dunia internasional dan merasa lebih terpisah dari daratan Tiongkok. Taiwan telah memperkuat hubungan dengan negara–negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang sering menyuarakan dukungannya untuk kemerdekaan Taiwan, meskipun tanpa pengakuan resmi. Ketegangan antara Taiwan dan Tiongkok terus meningkat, dengan ancaman invasi yang selalu ada di latar belakang. Meskipun prospek kemerdekaan Taiwan sangat bergantung pada ketegangan dengan Tiongkok dan dukungan internasional, Taiwan tetap menjadi salah satu kawasan dengan peluang terbesar untuk menjadi negara merdeka.
4. Kurdistan (Irak, Turki, Suriah, Iran) 
Wilayah Kurdistan adalah rumah bagi kelompok etnis Kurdi yang tersebar di beberapa negara, termasuk Irak, Turki, Suriah, dan Iran. Selama berabad-abad, suku Kurdi telah berjuang untuk memiliki negara merdeka yang disebut Kurdistan. Meskipun gerakan ini sudah ada sejak awal abad ke-20, peluang bagi pembentukan negara Kurdi yang merdeka semakin nyata dengan adanya wilayah otonomi Kurdi di Irak, yang dikenal sebagai Kurdistan Regional Government (KRG). Namun, meskipun wilayah ini memiliki pemerintahan dan pasukan militer sendiri, aspirasi untuk negara Kurdi yang lebih besar masih kuat di kalangan warga Kurdi di seluruh kawasan tersebut.
Di Irak, setelah Perang Teluk, wilayah Kurdi berhasil mendapatkan otonomi lebih besar dan mengadakan referendum kemerdekaan pada tahun 2017. Namun, pemerintah pusat Irak menanggapi dengan keras dan meminta agar wilayah tersebut tetap berada dalam negara Irak. Di Turki, PKK (Partai Pekerja Kurdistan) telah lama memperjuangkan hak-hak Kurdi, meskipun gerakan ini menghadapi penindasan keras oleh pemerintah Turki. Begitu pula di Suriah, pasukan Kurdi telah menguasai beberapa wilayah yang menginginkan otonomi lebih besar. Tuntutan kemerdekaan Kurdi di kawasan ini masih berlanjut, meskipun adanya penentangan dari negara–negara besar yang khawatir akan memicu ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah.
5. Palestina 
Wilayah Palestina, yang terdiri dari Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur, telah menjadi simbol perjuangan kemerdekaan di dunia Arab. Sejak awal abad ke-20, Palestina telah mengalami berbagai ketegangan dan konflik dengan Israel, yang mulai terbentuk setelah Perang Dunia II dan Deklarasi Balfour. Pada 1967, Israel menguasai sebagian besar wilayah Palestina, dan sejak saat itu, perjuangan untuk kemerdekaan Palestina menjadi salah satu isu paling penting di dunia internasional.
Meski Palestina telah diakui sebagai negara oleh lebih dari 130 negara dan merupakan anggota penuh di beberapa organisasi internasional seperti UNESCO, penerimaan Palestina sebagai negara merdeka di PBB masih terhambat oleh penolakan dari Israel dan sekutunya, terutama Amerika Serikat. Namun, dukungan internasional yang semakin meningkat dan upaya diplomatik yang terus berlanjut meningkatkan peluang Palestina untuk mencapai kemerdekaan penuh di masa depan. Proses ini masih terhambat oleh konflik teritorial dan masalah status Yerusalem, tetapi jika situasi politik terus berkembang ke arah yang positif, negara Palestina yang merdeka dapat terwujud dalam waktu dekat.
6. Sahara Barat :strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4410652/original/054050600_1682851610-WhatsApp_Image_2023-04-30_at_17.45.13.jpeg)
Sahara Barat adalah wilayah yang terletak di bagian barat laut Afrika dan telah lama menjadi pusat konflik antara Maroko dan Front Polisario. Front Polisario adalah kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat dan pembentukan negara Sahrawi yang merdeka. Sejak 1975, Maroko mengklaim wilayah Sahara Barat sebagai bagian dari teritorialnya setelah Spanyol meninggalkan koloni ini. Namun, sebagian besar negara di dunia, serta organisasi internasional seperti Uni Afrika dan PBB, mendukung hak rakyat Sahara Barat untuk menentukan nasib mereka sendiri melalui referendum.
Sahara Barat telah mengalami perang saudara dan ketegangan politik yang berlangsung selama beberapa dekade. Meskipun ada gencatan senjata pada tahun 1991 dan upaya perdamaian yang dilakukan oleh PBB, konflik ini masih berlangsung. Jika proses perdamaian dan pengakuan internasional berjalan lancar, Sahara Barat bisa menjadi negara merdeka di masa depan. Namun, ketegangan dengan Maroko dan tekanan internasional yang berasal dari berbagai pihak membuat situasi ini semakin kompleks.
7. Tibet (China) 
Tibet adalah wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah invasi Tiongkok pada 1950, Tibet menjadi bagian dari Tiongkok, meskipun banyak warga Tibet dan pemimpin spiritual mereka, Dalai Lama, menganggap Tibet sebagai negara merdeka. Tibet, yang memiliki budaya dan agama yang sangat berbeda dengan Tiongkok, sering merasa terasing di bawah kendali Beijing. Meskipun gerakan kemerdekaan Tibet lebih mengutamakan pendekatan non-violence, banyak warga Tibet yang ingin mendapatkan kemerdekaan penuh.
Gerakan kemerdekaan Tibet semakin terpinggirkan setelah Dalai Lama mengajukan tuntutan untuk otonomi yang lebih besar daripada kemerdekaan penuh. Namun, sejak invasi dan penindasan terhadap kebebasan beragama, banyak yang terus berjuang untuk negara Tibet yang merdeka. Meskipun prospek Tibet untuk memperoleh kemerdekaan penuh dalam waktu dekat sangat tipis, situasi internasional dan ketegangan dengan Tiongkok dapat menyebabkan perubahan dalam status Tibet di masa depan.
8. Catalunya (Venezuela) 
Venezuela adalah salah satu negara dengan situasi politik yang sangat tidak stabil dalam beberapa dekade terakhir. Negara bagian Catalunya di Venezuela kini semakin mendorong kemerdekaan seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap pemerintahan pusat yang otoriter. Gerakan separatis ini memperjuangkan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan merasa bahwa mereka dapat mengelola sumber daya mereka dengan lebih baik. Jika gerakan ini terus berkembang, kemungkinan Catalunya bisa menjadi negara merdeka di masa depan.
9. Biafra (Nigeria) 
Biafra adalah wilayah yang terletak di tenggara Nigeria, yang pada 1967 pernah memproklamirkan kemerdekaannya, memicu Perang Biafra. Setelah perang yang berlangsung selama tiga tahun, wilayah ini akhirnya kembali berada di bawah kendali Nigeria. Namun, keinginan untuk kemerdekaan Biafra tetap ada di kalangan sejumlah besar warganya. Biafra merupakan wilayah yang kaya dengan sumber daya alam, namun merasa terpinggirkan dalam sistem pemerintahan Nigeria. Gerakan separatis Biafra tetap hidup, meskipun tantangan untuk mencapai kemerdekaan penuh masih sangat besar.
10. Zululand (Afrika Selatan) 
Zululand, yang merupakan wilayah asal suku Zulu di Afrika Selatan, juga memiliki dorongan untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat. Meskipun wilayah ini saat ini merupakan bagian dari provinsi KwaZulu-Natal, ada dorongan untuk mengembalikan Zululand sebagai entitas yang merdeka. Suku Zulu memiliki sejarah panjang dan budaya yang kaya, dan meskipun ini masih merupakan isu yang sangat spekulatif, keinginan untuk pembentukan negara Zululand tetap ada.
Kesimpulan
Pembentukan negara baru merupakan suatu proses yang rumit dan penuh dengan konflik. Namun, dorongan untuk memperoleh kemerdekaan dan otonomi tetap menjadi motivasi penting bagi banyak wilayah di dunia. Setiap wilayah memiliki latar belakang sejarah dan alasan yang berbeda-beda dalam perjuangannya, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa perubahan geopolitik ini akan terus mempengaruhi peta politik dunia di masa depan. Pembentukan negara baru bukan hanya soal politik dan perjanjian internasional, tetapi juga tentang identitas, budaya, dan hak untuk menentukan nasib sendiri.
