Menilik Upaya Xi Jinping dalam Memupuk Persahabatan China-Malaysia

561voice.com , 16 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Xi makes a case for free trade, presenting China as a source of 'stability  and certainty' | AP News

Hubungan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Malaysia merupakan salah satu bentuk kerja sama bilateral yang paling stabil dan dinamis di kawasan Asia Tenggara. Sejak resmi menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1974, kedua negara telah mengalami perkembangan signifikan dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, politik, budaya, hingga pertahanan. Hubungan ini mencapai babak baru di era kepemimpinan Presiden Xi Jinping yang dikenal dengan kebijakan luar negeri aktif, pro-dialog, dan berbasis inisiatif global seperti Belt and Road Initiative (BRI).

Di tengah perubahan geopolitik global dan regional, Xi Jinping telah memainkan peran penting dalam memperkuat kemitraan strategis antara China dan Malaysia. Melalui pendekatan multilapis yang mencakup diplomasi tingkat tinggi, kerja sama ekonomi, pertukaran budaya, hingga solidaritas dalam menghadapi pandemi global, Xi Jinping menunjukkan bahwa hubungan bilateral ini bukan sekadar transaksional, tetapi juga strategis dan visioner.


1. Xi Jinping dan Diplomasi Tingkat Tinggi: Menempatkan Malaysia dalam Peta Strategis Tiongkok

Presiden Prabowo disambut upacara kenegaraan oleh Presiden Xi Jinping -  ANTARA News

Dalam kerangka diplomasi luar negeri Tiongkok, Asia Tenggara memiliki peran sentral. Presiden Xi Jinping sejak awal pemerintahannya memprioritaskan hubungan dengan negara-negara ASEAN, dan Malaysia menjadi salah satu mitra terpenting di kawasan. Langkah diplomatik Xi tidak hanya berbentuk pernyataan politik, tetapi diwujudkan melalui kunjungan kenegaraan, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), serta peningkatan status hubungan bilateral.

Kunjungan Xi Jinping ke Malaysia pada tahun 2013 menjadi tonggak penting yang memperkuat dasar hubungan bilateral menjadi “Kemitraan Strategis Komprehensif.” Dalam kunjungan tersebut, kedua negara sepakat untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk energi, keuangan, pendidikan, dan pertahanan.

Presiden Xi memandang Malaysia bukan hanya sebagai mitra dagang, tetapi juga sebagai mitra regional yang strategis, stabil, dan memiliki pengaruh besar dalam dinamika ASEAN. Dalam berbagai forum internasional, Xi Jinping memuji peran Malaysia dalam memelihara perdamaian dan kestabilan regional, serta dukungan konsisten Malaysia terhadap prinsip “Satu Tiongkok”.


2. Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI): Kerja Sama Ekonomi Jangka Panjang

Salah satu inisiatif kebijakan luar negeri paling ambisius yang diluncurkan Xi Jinping adalah Belt and Road Initiative (BRI), yang bertujuan untuk membangun jalur perdagangan dan infrastruktur yang menghubungkan Tiongkok dengan berbagai kawasan dunia. Malaysia merupakan salah satu negara ASEAN pertama yang menyambut inisiatif ini secara terbuka.

East Coast Rail Link (ECRL): Simbol Kemitraan Infrastruktur

Proyek East Coast Rail Link (ECRL) adalah simbol dari kerja sama ekonomi Tiongkok-Malaysia di bawah BRI. Proyek ini melibatkan pembangunan jaringan rel kereta api sepanjang lebih dari 600 km yang menghubungkan pelabuhan di Pantai Barat Malaysia dengan Pantai Timur. Pembangunan ini tidak hanya membuka akses logistik domestik, tetapi juga memperkuat konektivitas dengan jalur perdagangan internasional yang penting bagi Tiongkok.

Kuantan Industrial Park dan Melaka Gateway

Tiongkok juga berinvestasi dalam Malaysia-China Kuantan Industrial Park (MCKIP) di Pahang, yang merupakan proyek kembar dari China-Malaysia Qinzhou Industrial Park di Tiongkok. Ini adalah contoh nyata kerja sama industri lintas batas yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas manufaktur dan investasi bilateral.

Selain itu, proyek Melaka Gateway — yang melibatkan pembangunan pelabuhan internasional — menunjukkan niat Tiongkok menjadikan Malaysia sebagai bagian integral dari jalur maritim 21st Century Maritime Silk Road.


3. Kerja Sama Sosial, Budaya, dan Pendidikan: Membangun Pemahaman Antarmasyarakat

Potret Xi Jinping Kunjungi Tetangga RI, Satukan Kekuatan Hadapi Trump

Presiden Xi Jinping memahami pentingnya soft diplomacy dalam mempererat hubungan bilateral. Oleh karena itu, kerja sama dalam bidang budaya, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat menjadi salah satu fokus utama dalam penguatan hubungan Tiongkok-Malaysia.

Beasiswa dan Pendidikan

Setiap tahun, pemerintah Tiongkok menawarkan ratusan beasiswa kepada pelajar Malaysia untuk melanjutkan studi di universitas-universitas terkemuka di Tiongkok. Program ini tidak hanya memperkuat hubungan antar generasi muda, tetapi juga menciptakan jaringan profesional yang dapat menjadi jembatan dalam hubungan bilateral ke depan.

Konfusius Institute dan Pertukaran Budaya

Beberapa universitas di Malaysia, seperti Universiti Malaya dan Universiti Malaysia Pahang, menjadi tuan rumah bagi Confucius Institute—pusat pembelajaran bahasa Mandarin dan budaya Tiongkok. Selain itu, pameran budaya, pertunjukan seni, dan festival film juga rutin digelar sebagai bagian dari diplomasi budaya Tiongkok.

Xi Jinping dalam pidatonya di Kongres Nasional Tiongkok menyatakan bahwa “hubungan antarmasyarakat adalah fondasi paling kuat dalam membangun kepercayaan antarnegara.” Hal ini tercermin dalam peningkatan signifikan jumlah wisatawan dan pelajar dari kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.


4. Solidaritas dalam Krisis: Respons Bersama terhadap Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 menjadi ujian besar bagi solidaritas antarbangsa. Di tengah krisis ini, hubungan China-Malaysia justru mengalami penguatan yang signifikan. Di bawah arahan Xi Jinping, Tiongkok memberikan bantuan medis, peralatan kesehatan, dan vaksin kepada Malaysia sejak awal pandemi.

Diplomasi Kesehatan

Pada 2021, Malaysia menjadi salah satu negara penerima awal vaksin Sinovac dari Tiongkok. Bahkan, Malaysia menjadi pusat pengisian dan pengemasan (fill and finish) vaksin Tiongkok untuk distribusi di kawasan Asia Tenggara. Hal ini menandai lahirnya kerja sama baru dalam bidang bioteknologi dan farmasi.

Xi Jinping menekankan bahwa pandemi adalah musuh bersama umat manusia, dan tidak boleh dijadikan alasan untuk menimbulkan perpecahan global. Diplomasi kesehatan ini memperkuat citra Tiongkok sebagai mitra global yang bertanggung jawab, serta mempererat hubungan bilateral yang dilandasi oleh solidaritas dan empati.


5. Isu Laut China Selatan dan Strategi Xi dalam Menjaga Keseimbangan

Meskipun hubungan China-Malaysia berjalan harmonis, isu Laut China Selatan tetap menjadi titik sensitif. Malaysia adalah salah satu negara pengklaim wilayah perairan yang tumpang tindih dengan klaim Tiongkok. Namun, hingga kini, kedua negara berhasil menangani isu ini dengan pendekatan diplomatik dan dialog terbuka.

Xi Jinping, dalam berbagai forum, menyerukan penyelesaian damai atas sengketa wilayah melalui mekanisme bilateral dan regional, tanpa campur tangan pihak ketiga. Tiongkok juga aktif dalam pembahasan Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan bersama ASEAN, termasuk Malaysia.

Hal ini menunjukkan bahwa di bawah kepemimpinan Xi, Tiongkok mengedepankan stabilitas dan dialog daripada konfrontasi, terutama dengan mitra utama seperti Malaysia.


6. Menatap Masa Depan: Transformasi Digital dan Pembangunan Berkelanjutan

Kenapa Xi Jinping Tidak ke Indonesia saat Tur Asia Tenggara?

Hubungan China-Malaysia kini bergerak menuju fase baru, dengan fokus pada kerja sama di bidang teknologi tinggi, energi hijau, dan pembangunan berkelanjutan. Tiongkok menunjukkan minat besar untuk menjadi mitra strategis Malaysia dalam transformasi digital dan agenda hijau.

Ekonomi Digital dan Smart Cities

Tiongkok, melalui perusahaan-perusahaan teknologinya seperti Huawei dan Alibaba, telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai lembaga di Malaysia. Kerja sama ini mencakup pengembangan jaringan 5G, kota pintar (smart cities), dan ekosistem digital yang mendukung ekonomi inklusif.

Energi Terbarukan dan Iklim

Malaysia dan Tiongkok juga memperkuat kerja sama dalam bidang energi terbarukan, termasuk tenaga surya, hidro, dan teknologi penyimpanan energi. Ini sejalan dengan komitmen Xi Jinping untuk mencapai netralitas karbon sebelum tahun 2060, yang dapat menjadi titik temu baru dalam kerja sama bilateral.


Kesimpulan

Upaya Xi Jinping dalam memperkuat hubungan Tiongkok-Malaysia tidak hanya merefleksikan kebijakan luar negeri yang strategis, tetapi juga menunjukkan pendekatan menyeluruh dan berorientasi jangka panjang. Melalui diplomasi tinggi, kerja sama ekonomi yang intens, pertukaran budaya yang mendalam, solidaritas dalam krisis, serta penanganan isu sensitif dengan bijaksana, Xi Jinping berhasil membawa hubungan bilateral ini ke level yang lebih tinggi.

Dengan fondasi yang telah dibangun selama lebih dari 50 tahun, hubungan China-Malaysia kini berada dalam lintasan yang stabil menuju masa depan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan saling menguntungkan. Xi Jinping, dengan visi global dan regionalnya, telah memberikan arah yang jelas bagi kemitraan strategis ini untuk terus berkembang seiring waktu.

BACA JUGA: Zelensky Undang Trump Kunjungi Ukraina untuk Lihat Dampak Perang

BACA JUGA: LUAR BIASA: Presiden Prabowo dan Raja Yordania Abdullah II Menyetir Mobil Sendiri

BACA JUGA: Presiden Prabowo dan Xi Jinping Saling Ucapkan Selamat 75 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Tiongkok