Wilayah Gaza Kian Menciut Seiring Perluasan Ekspansi Israel: Krisis Geopolitik dan Kemanusiaan yang Makin Memburuk

Wilayah Gaza Kian Menciut Seiring Perluasan Ekspansi Israel: Krisis Geopolitik dan Kemanusiaan yang Makin Memburuk

561voice.com, 19 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Wilayah Gaza Kian Menciut Seiring Perluasan Ekspansi Israel

Gaza, April 2025 — Di tengah puing-puing bangunan yang porak-poranda, di antara tenda-tenda darurat yang berdiri di lahan-lahan terbuka, lebih dari dua juta warga Palestina di Jalur Gaza kini hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Wilayah kecil yang dulunya telah padat, kini kian menciut baik secara fisik maupun simbolis, seiring dengan perluasan ekspansi wilayah yang dilakukan oleh Israel dalam beberapa tahun terakhir.

Apa yang semula disebut sebagai “operasi keamanan terbatas” kini menunjukkan tanda-tanda jelas dari aneksasi de facto. Perkembangan ini tidak hanya menandai perubahan peta geopolitik kawasan, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.


1. Latar Belakang Konflik: Dari Blokade ke Pendudukan Terbuka

39.000 Anak Palestina di Gaza Jadi Yatim Akibat Serangan Israel - Global  Liputan6.com

Sejak kelompok Hamas mengambil alih kendali Jalur Gaza pada 2007, wilayah ini telah menjadi sasaran blokade ketat oleh Israel dan Mesir. Blokade darat, laut, dan udara yang diterapkan Israel dengan alasan keamanan telah membatasi pergerakan barang dan manusia secara drastis. Krisis yang sebelumnya berupa kelangkaan sumber daya dan keterbatasan ekonomi, kini berkembang menjadi ancaman eksistensial.

Memasuki akhir tahun 2023, setelah pecahnya gelombang baru konflik bersenjata antara Israel dan Hamas yang dipicu oleh serangan roket lintas batas dan serbuan ke permukiman Israel, Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran yang diberi nama “Operasi Perisai Abadi”. Berbeda dengan operasi sebelumnya, kali ini Israel tidak hanya menyerang fasilitas militer Hamas, tetapi juga mengambil alih dan menduduki wilayah-wilayah strategis di Gaza.


2. Penyusutan Wilayah Gaza: Bukti Aneksasi De Facto?

Warga Gaza Kembali Mengungsi Menyusul Rencana Serangan Israel | tempo.co

Wilayah Gaza awalnya memiliki luas sekitar 365 kilometer persegi, menjadikannya salah satu wilayah terpadat di dunia. Namun, berdasarkan peta terbaru yang dirilis oleh lembaga pemantau HAM internasional, lebih dari 40% wilayah Gaza kini berada di bawah kendali militer Israel secara langsung, sementara sebagian besar sisanya berada dalam pengawasan ketat.

Wilayah yang paling terdampak adalah:

  • Gaza Utara: Termasuk Beit Hanoun dan Beit Lahiya, kini dijadikan zona militer tertutup dan tidak lagi dihuni warga sipil.

  • Wilayah Tengah: Beberapa bagian Deir al-Balah dan Nuseirat menjadi zona penyangga.

  • Khan Younis (Selatan): Sebagian besar wilayah dekat perbatasan Mesir telah dipagari dan dipantau oleh drone dan pos militer permanen.

  • Kota Gaza: Hanya tersisa sebagai kantong kecil yang menjadi pusat pemerintahan sipil dan rumah sakit, namun terus dibombardir secara periodik.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan analis dan pengamat internasional: apakah ini bentuk aneksasi terselubung?

Menurut Dr. Khaled Mansour, seorang pengamat Timur Tengah dari Universitas Birzeit, “Israel tidak perlu mengumumkan aneksasi resmi. Dengan mengendalikan akses, pergerakan, dan distribusi sumber daya, mereka sudah menciptakan realitas aneksasi di lapangan.”


3. Krisis Kemanusiaan: Kehidupan dalam Pengungsian Abadi

Harapan Warga Gaza di Tahun Baru 2024: Kami Ingin Hidup Seperti Manusia  Lainnya

Dampak paling nyata dari penyusutan wilayah ini adalah gelombang pengungsian internal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut data UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina), lebih dari 1,6 juta orang kini mengungsi di dalam Gaza sendiri, tinggal di sekolah, taman, bahkan reruntuhan bangunan.

Situasi kesehatan dan sanitasi memburuk dengan cepat:

  • Fasilitas kesehatan: Lebih dari 70% rumah sakit dan klinik tidak berfungsi. Serangan langsung ke rumah sakit seperti Al-Shifa dan Nasser telah menghentikan operasional mereka.

  • Pangan dan air: Bantuan makanan hanya cukup untuk 1 dari 5 keluarga. Krisis air bersih semakin memburuk akibat rusaknya infrastruktur pompa dan pengolahan air.

  • Kesehatan mental: Laporan UNICEF menyebutkan bahwa lebih dari 60% anak-anak Gaza kini menunjukkan gejala trauma psikologis berat.


4. Reaksi Dunia: Retorika Tanpa Tindakan Nyata

PBB, Uni Eropa, Liga Arab, hingga berbagai organisasi hak asasi manusia telah mengutuk tindakan Israel, namun tindakan nyata masih minim. Dewan Keamanan PBB telah tiga kali mengadakan pertemuan darurat, tetapi resolusi kuat selalu terganjal veto dari Amerika Serikat.

Beberapa negara seperti Turki, Malaysia, dan Afrika Selatan telah menyuarakan boikot ekonomi dan diplomatik, namun pengaruhnya masih terbatas dalam menghentikan ekspansi yang tengah berlangsung.

Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menghadapi dilema antara menjaga hubungan diplomatik dengan Israel pasca normalisasi dan merespons tekanan dari masyarakat Muslim internasional yang marah melihat penderitaan rakyat Palestina.


5. Perspektif Israel: Antara Keamanan dan Dominasi Wilayah

Pemerintah Israel berdalih bahwa tindakan mereka adalah upaya mempertahankan keamanan nasional dari ancaman militer Hamas. Mereka mengklaim bahwa jalur terowongan bawah tanah, peluncur roket, dan pos militer Hamas telah menyusup ke berbagai wilayah sipil, sehingga perlu ditindak secara militer.

Namun, pengamat internasional menilai bahwa aksi ini telah melewati batas legalitas internasional. “Dalam hukum internasional, tindakan ini dapat dikategorikan sebagai bentuk pendudukan ilegal yang melanggar Konvensi Jenewa,” kata Prof. Richard Falk, mantan pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Palestina.


6. Harapan Perdamaian: Semakin Samar di Tengah Puing

Di tengah kehancuran dan ketidakpastian ini, jalan menuju perdamaian terasa semakin jauh. Inisiatif dialog yang diusulkan Mesir dan Qatar belum membuahkan hasil. Faksi-faksi politik Palestina pun terpecah antara perlawanan bersenjata dan diplomasi, sementara kepercayaan publik terhadap solusi dua negara (two-state solution) menurun tajam.

Meski begitu, suara-suara perlawanan non-kekerasan tetap muncul. Aktivis muda di Gaza terus mengirim pesan ke dunia melalui media sosial, seni, dan jurnalisme warga. “Kami tidak akan hilang. Kami bukan statistik. Kami manusia,” tulis Nour Al-Hassan, seorang jurnalis muda Gaza, dalam akun X (Twitter) miliknya.


Penutup: Gaza yang Tersisa — Tanah, Harapan, dan Keadilan yang Terus Diterpa

Wilayah Gaza hari ini bukan lagi sekadar titik geografis yang terjepit di antara laut dan pagar tembok. Ia telah menjadi simbol perlawanan, penderitaan, dan kegagalan komunitas internasional dalam menegakkan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Di tengah tanah yang kian menciut dan langit yang terus didera dentuman, Gaza bertahan. Dengan sumber daya yang hampir habis, tapi dengan semangat yang belum padam. Dunia dihadapkan pada pilihan: terus menutup mata, atau bangkit untuk menegakkan keadilan.

BACA JUGA: Analisis Mendalam: Peningkatan Kemampuan Taktik Perang Tentara Korea Utara di Ukraina

BACA JUGA: Balinuraga: Sejarah Kelam Tanah Lampung dan Bali

BACA JUGA: China Menanggapi Kebijakan AS dengan Kenaikan Tarif Pajak Hingga 245 Persen