561voice.com, 26 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Vatikan, 26 April 2025 – Dunia berkabung atas wafatnya Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma yang dikenal karena semangat kesederhanaannya, kepeduliannya pada kaum miskin, dan upayanya mempererat hubungan lintas agama. Upacara pemakamannya yang diselenggarakan pada Sabtu pagi di Lapangan Santo Petrus menjadi sorotan global, dengan lebih dari 250.000 pelayat hadir, serta 107 tamu negara dari berbagai penjuru dunia.
Prosesi Pemakaman yang Mengharukan

Prosesi pemakaman dimulai sejak dini hari ketika umat Katolik dari berbagai negara mulai berdatangan ke Vatikan. Banyak di antaranya telah berkemah atau bermalam di dekat Basilika Santo Petrus untuk mendapatkan tempat yang layak. Suasana penuh kesunyian dan duka menyelimuti lapangan ikonik itu saat peti jenazah Paus Fransiskus dibawa keluar dari Basilika dan ditempatkan di hadapan altar utama yang berada di tengah-tengah lapangan.
Pukul 10.00 waktu setempat, Misa Requiem dimulai. Upacara dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re, Dekan Dewan Kardinal, yang selama bertahun-tahun menjadi rekan dekat dan penasihat Paus. Prosesi ini dihadiri pula oleh ratusan uskup dan ribuan imam dari seluruh dunia yang mengenakan jubah putih sebagai lambang kebangkitan dan pengharapan.
Dalam homilinya, Kardinal Re menyampaikan pesan yang menyentuh tentang warisan spiritual Paus Fransiskus. Ia menekankan nilai-nilai yang senantiasa diperjuangkan oleh Sri Paus, seperti kasih terhadap kaum marginal, seruan untuk menjaga bumi, serta upaya reformasi dalam tubuh Gereja.
“Paus Fransiskus adalah suara hati nurani dunia di tengah kekacauan zaman,” ujar Kardinal Re dalam pidatonya yang disambut isak tangis dari umat.
Peti Kayu Sipres dan Pemakaman di Santa Maria Maggiore

Salah satu hal yang mencolok dari upacara ini adalah pemilihan tempat pemakaman. Alih-alih dimakamkan di bawah Basilika Santo Petrus seperti tradisi para pendahulunya, Paus Fransiskus meminta agar dirinya dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, sebuah gereja yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan imannya.
Gereja tersebut merupakan tempat pertama yang beliau kunjungi setelah terpilih sebagai Paus pada tahun 2013. Di sana, ia selalu berdoa sebelum dan sesudah setiap perjalanan apostoliknya.
Peti jenazah Paus Fransiskus terbuat dari kayu sipres sederhana, tanpa ornamen berlebihan, sesuai dengan prinsip kesederhanaan yang ia anut seumur hidupnya. Peti tersebut juga berisi salinan Konstitusi Apostolik, sejumlah koin Vatikan dari masa kepemimpinannya, dan sebuah gulungan yang mencatat peristiwa penting selama masa kepausannya.
Kehadiran Pemimpin Dunia dan Simbol Persatuan Global

Upacara ini tidak hanya menjadi momen duka bagi umat Katolik, tetapi juga panggung simbolis bagi persatuan antarbangsa. Tercatat 107 delegasi resmi negara hadir, termasuk Presiden Italia, Kanselir Jerman, Perdana Menteri Kanada, serta utusan khusus dari Amerika Serikat dan Tiongkok.
Beberapa pemimpin agama lintas iman seperti perwakilan dari Gereja Ortodoks Timur, pemimpin Muslim, pemuka Hindu, dan Buddha juga hadir memberikan penghormatan. Mereka menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya sosok yang dianggap sebagai jembatan dialog antaragama.
“Beliau adalah pemimpin spiritual yang benar-benar melampaui batas keagamaan. Kehadirannya menyatukan kita semua,” ujar seorang perwakilan dari Dewan Gereja Dunia.
Warisan Paus Fransiskus
![]()
Paus Fransiskus, lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina, adalah Paus pertama dari benua Amerika, sekaligus Paus pertama dari Jesuit. Sejak terpilih tahun 2013, beliau langsung menandai arah baru dalam kepemimpinan Vatikan dengan menolak kemewahan dan mendorong reformasi internal.
Ia dikenal karena ensiklik Laudato Si’, yang menyerukan tindakan global terhadap krisis lingkungan, serta Fratelli Tutti, yang menyerukan persaudaraan universal. Dalam 12 tahun masa kepausannya, ia juga aktif mendamaikan konflik, menyuarakan keadilan sosial, dan memperkuat peran perempuan di lingkungan Gereja.
Kematian beliau pada usia 88 tahun menandai akhir dari era penting dalam sejarah Gereja Katolik dan meninggalkan jejak mendalam bagi dunia.
Penutup
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5195751/original/031772800_1745382982-20250423-Rencana_Pemakaman_Paus-AFP_1.jpg)
Suasana di Vatikan pada hari itu tidak hanya diwarnai duka, tapi juga rasa syukur atas kehidupan seorang pemimpin spiritual yang rendah hati dan penuh cinta kasih. Pemakaman Paus Fransiskus menjadi momen refleksi global — tentang iman, kemanusiaan, dan tanggung jawab bersama.
BACA JUGA: Gencatan Senjata Paskah Rusia-Ukraina Berakhir dengan Saling Tuduh Pelanggaran
BACA JUGA: Skandal Iuran Kebersamaan: Wali Kota Semarang Mbak Ita dalam Pusaran Dugaan Korupsi
BACA JUGA: Afganistan Sarang Konflik: Yang Tak Berujung Secara Mendalam
