5 Fakta Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI

Pawai ogoh-ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026, pukul 06.00–09.00 WIB — menjadi pertama kalinya tradisi Hindu Bali ini digelar di jantung ibu kota Jakarta. Menurut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, festival ini melibatkan sekitar 2.000 peserta dari berbagai banjar Hindu dan sekolah se-Jabodetabek, menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026.

Ribuan warga memadati sepanjang rute pawai meski diguyur gerimis sejak pagi. Festival ini bukan sekadar tontonan — ini adalah momen bersejarah yang menandai pengakuan Pemprov DKI Jakarta atas keberagaman budaya secara nyata di ruang publik paling ikonik di Indonesia. Artikel ini merangkum 5 fakta penting yang perlu Anda ketahui tentang kemeriahan pawai ogoh-ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI.


Apa Itu Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI?

5 Fakta Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI

Pawai ogoh-ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI adalah festival budaya resmi yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi DKI Jakarta dan Suka Duka Hindu Dharma Jakarta Raya. Festival ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, dengan ogoh-ogoh — patung raksasa simbol sifat negatif manusia — diarak dari Monas menuju Bundaran HI sepanjang Jalan MH Thamrin. Ini adalah pertama kalinya pawai ogoh-ogoh digelar di kawasan Bundaran HI.

Ogoh-ogoh adalah representasi fisik dari Bhuta Kala, kekuatan negatif dalam kepercayaan Hindu Bali. Patung-patung raksasa ini diarak dan kemudian secara simbolis “dimusnahkan” menjelang Nyepi, sebagai bentuk penyucian diri kolektif sebelum memasuki hari hening total. Di Jakarta, tradisi ini biasanya terbatas di lingkungan pura dan banjar Hindu. Maka, tampilnya ogoh-ogoh di Bundaran HI — ikon Jakarta sekaligus salah satu titik paling dikenal di Indonesia — menjadi tonggak sejarah tersendiri.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo, keputusan memusatkan perayaan Nyepi di Bundaran HI mencerminkan komitmen Pemprov Jakarta bahwa semua agama harus mendapat ruang setara di ibu kota. “Jakarta ini multikultur, multietnik, dan semuanya harus mendapatkan ruang, tempat untuk bisa mengekspresikan apa yang mereka yakini,” ujar Pramono (Times Indonesia, 7 Maret 2026).

Key Takeaway: Pawai ogoh-ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI adalah peristiwa bersejarah — pertama kalinya tradisi Hindu Bali tampil resmi di pusat ibu kota Jakarta.


Fakta 1: Pertama Kalinya dalam Sejarah Jakarta — Ogoh-Ogoh di Bundaran HI

5 Fakta Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, patung ogoh-ogoh raksasa melintas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, salah satu simbol Jakarta yang paling ikonik. Sebelumnya, pawai ogoh-ogoh di Jakarta hanya digelar di lingkungan pura dan banjar Hindu yang tersebar di berbagai wilayah, atau di venue seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kehadiran ogoh-ogoh di Bundaran HI pada 8 Maret 2026 menjadi preseden baru dalam kalender budaya Jakarta.

Keputusan ini bermula dari audiensi perwakilan umat Hindu Jakarta dengan Wakil Gubernur Rano Karno di Balai Kota. Dalam pertemuan itu, komunitas Hindu awalnya hanya merencanakan 8 ogoh-ogoh. Namun Rano Karno mendorong agar jumlahnya ditambah agar parade lebih semarak di ruang publik sebesar Bundaran HI. “Saya tanya ada berapa banyak ogoh-ogoh. Ya kira-kira ada delapan. Waduh, saya bilang kalau bisa lebih banyakin supaya kita bisa tampilkan di Bundaran HI,” ujar Rano Karno (RMOL, 8 Maret 2026). Hasilnya, 13 hingga 15 ogoh-ogoh berhasil ditampilkan dalam satu parade.

Tidak hanya ogoh-ogoh, kawasan Bundaran HI juga dihiasi penjor — ornamen bambu panjang melengkung khas Bali — untuk pertama kalinya. Penjor biasanya menghiasi jalan-jalan di Bali saat Nyepi dan Galungan, dan kini hadir di tengah kawasan bisnis Jakarta Pusat sebagai simbol keberagaman yang nyata.

Key Takeaway: Pawai 8 Maret 2026 mencatat sejarah: Bundaran HI untuk pertama kalinya menjadi panggung ogoh-ogoh dan penjor khas tradisi Hindu Bali.


Fakta 2: 2.000 Peserta, 13–15 Ogoh-Ogoh — Skala Festival yang Luar Biasa

5 Fakta Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI

Pawai ogoh-ogoh Festival Nyepi 2026 di Bundaran HI melibatkan sekitar 2.000 peserta yang menampilkan 13 hingga 15 ogoh-ogoh dalam satu rangkaian parade budaya, menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (Kumparan, 8 Maret 2026). Peserta berasal dari berbagai banjar Hindu dan sekolah-sekolah di seluruh wilayah Jabodetabek.

Festival berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB, dengan rute dari kawasan Monumen Nasional (Monas) menyusuri Jalan MH Thamrin menuju Bundaran HI, lalu kembali ke Monas. Rute ini melewati salah satu koridor utama Jakarta yang biasanya digunakan untuk Car Free Day setiap akhir pekan, sehingga antusiasme warga yang sudah hadir di CFD turut menyaksikan parade.

Parade dibuka oleh rombongan dari Pura Hindu Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menampilkan penggalan kisah Ramayana — Rama dan Shinta — dengan ogoh-ogoh barong sebagai elemen utama. Selanjutnya, Wanita Hindu Dharma Indonesia berpartisipasi mengenakan kebaya khas Bali berwarna merah dan putih. Uniknya, kelompok ondel-ondel Betawi dari Jakarta Utara juga ikut serta, memperkuat pesan kebinekaan antara tradisi Bali dan Betawi dalam satu pawai. Ogoh-ogoh yang ditampilkan beragam: mulai dari barong, buta kala, naga, hingga gajah raksasa (Kompas, 8 Maret 2026).

Festival ini terselenggara atas kerja sama Pemprov DKI Jakarta dengan Suka Duka Hindu Dharma Jakarta Raya dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi DKI Jakarta — dua organisasi resmi umat Hindu terbesar di Jakarta.

Key Takeaway: Dengan 2.000 peserta dan 13–15 ogoh-ogoh, Festival Nyepi 2026 di Bundaran HI menjadi salah satu parade budaya Hindu terbesar yang pernah digelar di Jakarta.


Fakta 3: Simbol Toleransi — Jakarta Rayakan Nyepi di Tengah Ramadan

5 Fakta Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI

Salah satu keistimewaan Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI adalah konteks waktunya: festival ini berlangsung di bulan Ramadan, hanya beberapa pekan menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Menurut Pemprov DKI Jakarta, momentum ini sengaja dijadikan peluang untuk menampilkan Jakarta sebagai kota yang merayakan keberagaman secara konkret — bukan sekadar retorika.

Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa perayaan hari besar keagamaan seluruh agama harus mendapat ruang yang setara di Jakarta, mulai dari Natal melalui Christmas Carol, Tahun Baru Imlek, Ramadan, Nyepi, hingga Idul Fitri. Menurut Rano Karno, festival budaya seperti ini menjadi “jembatan kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat Jakarta yang beragam” (RMOL, 8 Maret 2026).

Festival Nyepi ini juga menjadi bagian dari kalender budaya resmi Pemprov DKI Jakarta yang tengah dikembangkan sebagai program berkelanjutan. Dengan masuknya pawai ogoh-ogoh ke agenda resmi ibu kota, komunitas Hindu Jakarta mendapat pengakuan setara dengan komunitas lain yang selama ini lebih sering mendapat ruang publik. Kehadiran Gubernur Pramono Anung, Wakil Gubernur Rano Karno, Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, dan Wakil Menteri Kependudukan di lokasi pawai memperkuat sinyal bahwa ini adalah agenda resmi pemerintah, bukan sekadar kegiatan komunitas (Kabar Indo Raya News, 8 Maret 2026).

Key Takeaway: Berlangsung di tengah Ramadan 2026, pawai ogoh-ogoh di Bundaran HI menjadi bukti nyata Jakarta sebagai kota multikultural yang merayakan keberagaman secara setara.


Fakta 4: Rangkaian Lengkap Nyepi 2026 Jakarta — Empat Klaster Kegiatan

5 Fakta Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI

Pawai ogoh-ogoh 8 Maret 2026 di Bundaran HI hanyalah satu bagian dari rangkaian perayaan Nyepi 2026 yang lebih besar di Jakarta. Menurut Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta Suharini Eliawati, rangkaian kegiatan Nyepi 2026 dibagi ke dalam empat klaster utama, yang tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat (Liputan6, 28 Februari 2026).

Berikut jadwal lengkap rangkaian Nyepi 2026 di Jakarta:

  • Melasti — 15 Maret 2026 di Pura Segara Cilincing, Jakarta Utara. Diikuti umat Hindu se-DKI Jakarta sebagai ritual penyucian diri sebelum Nyepi.
  • Tawur Agung Kesanga — 18 Maret 2026 di Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur. Upacara keagamaan besar sehari sebelum Nyepi.
  • Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Saka 1948) — 19 Maret 2026. Hari hening total bagi umat Hindu.
  • Ngembak Geni — sehari setelah Nyepi, sebagai pembuka kembali aktivitas.
  • Dharma Santi — ajang silaturahmi pasca-Nyepi antarumat beragama.

Selain ritual keagamaan, panitia juga menyiapkan kegiatan sosial seperti bakti sosial, donor darah, dan pengobatan gratis; seminar literasi keuangan dan pemberdayaan UMKM; serta festival budaya dan edukasi di ruang publik. Penjor khas Bali juga akan dipasang di kawasan Bundaran HI sebagai dekorasi resmi menjelang 19 Maret — pertama kalinya dalam sejarah penjor terpasang di lokasi tersebut.

Key Takeaway: Pawai ogoh-ogoh 8 Maret adalah pembuka dari rangkaian Nyepi 2026 Jakarta yang mencakup empat klaster kegiatan mulai dari ritual Melasti, Tawur Agung, hingga Dharma Santi pasca-Nyepi.


Fakta 5: Hujan Tak Surutkan Antusias — Ribuan Warga Tetap Memadati Bundaran HI

Meski Jakarta diguyur gerimis sejak pagi hari Minggu 8 Maret 2026, ribuan warga tetap memadati kawasan Bundaran HI untuk menyaksikan pawai ogoh-ogoh. Menurut pantauan Kompas.com di lokasi, pawai dimulai sekitar pukul 07.35 WIB dan sorak sorai terdengar saat ogoh-ogoh berukuran besar diangkat tinggi oleh para peserta. Banyak warga mengabadikan momen bersejarah ini menggunakan telepon genggam mereka (Kompas, 8 Maret 2026).

Antusiasme ini mencerminkan daya tarik festival budaya di ruang publik Jakarta. Salah seorang pengunjung, Rini (29), mengaku senang bisa menyaksikan langsung pawai ogoh-ogoh di Jakarta, karena selama ini tradisi ini lebih identik dengan Bali (Kabar Indonesia, 8 Maret 2026). Bagi banyak warga Jakarta yang belum pernah ke Bali, festival ini menjadi jendela pertama mengenal tradisi Nyepi secara langsung.

Dari sisi keamanan, Polsek Metro Menteng menurunkan personel untuk pengaturan arus lalu lintas dan pengamanan jalur kegiatan di Jalan MH Thamrin. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold E. P. Hutagalung menyatakan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar (Kabar Indo Raya News, 8 Maret 2026). Ini membuktikan bahwa festival budaya berskala besar dapat diselenggarakan dengan tertib di pusat kota Jakarta.

Wakil Gubernur Rano Karno menutup sambutannya dengan harapan yang kuat: “Semoga perayaan ini membawa kedamaian, menjadi momentum refleksi diri, serta mampu memperkuat persatuan di Jakarta.”

Key Takeaway: Antusiasme ribuan warga yang hadir meski hujan membuktikan bahwa festival budaya seperti pawai ogoh-ogoh memiliki daya tarik kuat sebagai agenda wisata budaya Jakarta.


Baca Juga Bruno Mars Rilis The Romantic 27 Feb 2026


Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan dan di mana pawai ogoh-ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI digelar?

Festival Pawai Ogoh-ogoh Nyepi 2026 digelar pada Minggu, 8 Maret 2026, mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Rute pawai dimulai dari kawasan Monumen Nasional (Monas), menyusuri Jalan MH Thamrin, menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI), lalu kembali ke Monas. Ini adalah pertama kalinya pawai ogoh-ogoh digelar secara resmi di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat (Pemprov DKI Jakarta, 2026).

Berapa jumlah peserta dan ogoh-ogoh dalam pawai ini?

Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, pawai ogoh-ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI melibatkan sekitar 2.000 peserta yang menampilkan 13 hingga 15 ogoh-ogoh dalam satu rangkaian parade. Peserta berasal dari berbagai banjar Hindu dan sekolah-sekolah di seluruh wilayah Jabodetabek (Kumparan, 8 Maret 2026).

Apa makna ogoh-ogoh dalam tradisi Nyepi Hindu Bali?

Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang melambangkan Bhuta Kala — sifat-sifat negatif dalam diri manusia yang harus disucikan menjelang Hari Raya Nyepi. Menurut Wakil Gubernur Rano Karno, ogoh-ogoh secara simbolis mewakili kekuatan negatif yang dimusnahkan agar umat Hindu dapat memasuki Nyepi — hari hening total — dengan jiwa yang bersih (RMOL, 8 Maret 2026).

Siapa saja pejabat yang hadir di Festival Nyepi 2026 Bundaran HI?

Festival ini dihadiri langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, dan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kabar Indo Raya News, 8 Maret 2026; Beritasatu, 8 Maret 2026).

Apa jadwal lengkap rangkaian Nyepi 2026 di Jakarta?

Rangkaian Nyepi 2026 di Jakarta meliputi: Pawai Ogoh-Ogoh (8 Maret 2026, Bundaran HI), Melasti (15 Maret 2026, Pura Segara Cilincing, Jakarta Utara), Tawur Agung Kesanga (18 Maret 2026, Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur), Hari Raya Nyepi (19 Maret 2026), Ngembak Geni, dan Dharma Santi pasca-Nyepi. Semua kegiatan diorganisasi Pemprov DKI Jakarta bersama PHDI Provinsi DKI Jakarta (Liputan6, 28 Februari 2026).

Mengapa pawai ogoh-ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI dianggap bersejarah?

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Jakarta bahwa ogoh-ogoh diarak di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, sekaligus pertama kalinya penjor khas Bali dipasang di lokasi tersebut. Menurut Gubernur Pramono Anung, keputusan ini mencerminkan komitmen Pemprov DKI Jakarta bahwa seluruh agama — termasuk Hindu — berhak mendapat ruang perayaan yang setara di ibu kota Indonesia (Times Indonesia, 7 Maret 2026).


Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bundaran HI bukan sekadar tontonan budaya — ini adalah pernyataan konkret bahwa Jakarta adalah kota yang merangkul keberagamannya. Dengan 2.000 peserta, 13–15 ogoh-ogoh, dan ribuan warga yang hadir meski diguyur hujan, festival ini membuka babak baru dalam kalender budaya ibu kota. Jika Anda ingin terus mengikuti liputan budaya dan hiburan Jakarta, subscribe dan aktifkan notifikasi 561voice.com untuk update terbaru.


Tentang Artikel Ini (Who/How/Why): Artikel ini disusun berdasarkan laporan langsung dari Kompas.com, Kumparan, Liputan6, Beritasatu, RMOL, Kabar Indonesia, dan Kabar Indo Raya News yang meliput Festival Nyepi 2026 di Bundaran HI pada 8 Maret 2026. Semua data, kutipan pejabat, dan angka peserta bersumber dari laporan media terverifikasi. Tidak ada statistik yang dikarang atau diekstrapolasi tanpa sumber.


Referensi

  1. Kompas.com — “Meski Hujan, Pawai Ogoh-ogoh Nyepi di Bundaran HI Tetap Diserbu Warga” (8 Maret 2026)
  2. Kumparan — “Pawai Ogoh-ogoh di Bundaran HI, Bikin CFD Makin Meriah” (8 Maret 2026)
  3. Liputan6 — “Nyepi 2026 Dipusatkan di Bundaran HI, Pemprov Jakarta Gelar Pawai Ogoh-ogoh” (28 Februari 2026)
  4. Beritasatu — “Meriah! Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 Ramaikan Bundaran HI” (8 Maret 2026)
  5. RMOL — “Sambut Nyepi, Parade Ogoh-Ogoh Meriahkan Bundaran HI” (8 Maret 2026)
  6. Kabar Indonesia — “Untuk Pertama Kalinya, Pawai Ogoh-Ogoh Meriahkan Bundaran HI Jakarta” (8 Maret 2026)
  7. Times Indonesia — “Gubernur Pramono Ingin Semua Warga Bisa Ekspresikan Hari Besar Keagamaan di Jakarta” (7 Maret 2026)
  8. Kabar Indo Raya News — “Pengamanan Festival Ogoh-Ogoh Nyepi 1948 Caka di Bundaran HI Berjalan Aman dan Lancar” (8 Maret 2026)