Daftar Isi
Toggle561voice.com, 21-03-2025
Penulis: Riyan Wicaksono

Bashar al-Assad adalah Presiden Suriah yang telah memimpin negara tersebut sejak tahun 2000, menggantikan ayahnya, Hafez al-Assad, yang memerintah Suriah selama hampir tiga dekade. Pemerintahan keluarga Assad telah menjadi salah satu elemen sentral dalam politik Suriah, memengaruhi banyak aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara itu. Keluarga ini memiliki latar belakang yang sangat kompleks, yang terkait erat dengan sejarah politik negara serta dinamika internal dan eksternal Suriah.
Untuk memahami kedalaman dan kompleksitas kekuasaan keluarga Assad, kita harus melihat lebih jauh ke dalam asal-usul keluarga, jalannya pemerintahan Hafez al-Assad, latar belakang pribadi Bashar al-Assad, serta bagaimana mereka menghadapi tantangan besar, seperti perang saudara yang menghancurkan Suriah sejak 2011.
1. Asal-usul Keluarga Assad dan Pengaruh Awal
Keluarga Assad berasal dari kelompok minoritas Alawit, sebuah cabang dari Islam Syiah yang mayoritas penduduknya beragama Sunni. Alawit merupakan kelompok yang relatif kecil, namun memiliki pengaruh besar dalam politik Suriah. Wilayah asal keluarga ini adalah desa Qardaha, sebuah desa terpencil yang terletak di pegunungan Latakia, bagian barat laut Suriah. Qardaha menjadi titik awal bagi kebangkitan keluarga Assad dalam politik Suriah.
Secara historis, Alawit dianggap sebagai kelompok yang terpinggirkan di Suriah dan tidak memiliki banyak pengaruh sebelum Hafez al-Assad menguasai negara. Namun, di bawah pemerintahan Hafez, Alawit diberdayakan dan diintegrasikan ke dalam struktur kekuasaan negara, yang mengubah dinamika sosial dan politik Suriah. Hafez al-Assad membangun jaringan yang kuat dari dalam kelompok Alawit dan menggunakan loyalitas mereka untuk mendirikan pemerintahan yang sangat terpusat dan otoriter.
2. Hafez al-Assad: Sang Arsitek Kekuasaan dan Konsolidasi Politik
Hafez al-Assad lahir pada tahun 1930 di Qardaha. Sebelum memimpin Suriah, Hafez adalah seorang perwira militer yang terjun ke dunia politik pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970, setelah melalui serangkaian ketegangan politik dan militer, Hafez melakukan kudeta yang dikenal sebagai “Revolusi 8 Maret,” yang mengakhiri pemerintahan yang lemah dan tidak stabil. Hafez kemudian mengonsolidasikan kekuasaan dan memulai periode pemerintahan yang berlangsung hampir tiga dekade hingga kematiannya pada 2000.
Selama pemerintahannya, Hafez al-Assad mengembangkan negara Suriah menjadi sebuah negara otoriter yang sangat terkonsolidasi, di mana semua kekuasaan terpusat pada dirinya dan orang-orang terdekatnya, terutama yang berasal dari kelompok Alawit. Dia memperkenalkan sistem pemerintahan yang sangat terstruktur di mana keluarga dan sekutunya mengendalikan hampir setiap aspek kehidupan politik dan ekonomi Suriah.
Salah satu kebijakan paling penting yang diperkenalkan oleh Hafez adalah penguatan kontrol militer dan badan keamanan negara. Selama pemerintahannya, Hafez menggunakan militer dan layanan intelijen untuk menekan oposisi dan menjaga stabilitas pemerintahan. Selama periode ini, kebebasan politik di Suriah sangat terbatas, dan negara ini dikenal dengan pengawasan yang ketat terhadap media serta penindasan terhadap setiap bentuk perlawanan.
Pemerintahan Hafez al-Assad juga ditandai dengan kebijakan luar negeri yang sangat berani. Ia terlibat dalam konflik dengan Israel dan memperkenalkan Suriah sebagai pendukung utama kelompok-kelompok militan Palestina dan berbagai gerakan anti-Barat. Di dalam negeri, Hafez melaksanakan kebijakan yang memaksakan kesetiaan kepada negara, mengontrol sumber daya ekonomi, serta memaksimalkan kekuatan militer untuk mempertahankan kekuasaan.
Namun, meskipun stabilitas politik dan keamanan tercapai, pemerintahan Hafez tidak tanpa kontroversi. Banyak kritik terhadap penggunaan kekerasan oleh negara untuk menanggulangi pemberontakan, terutama ketika ia menindak tegas pemberontakan yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin di Hama pada tahun 1982, di mana ribuan orang tewas dalam pembantaian itu. Namun, Hafez tetap mempertahankan kekuasaannya dan menjadikan keluarga Assad sebagai simbol dari stabilitas di Suriah.
3. Bashar al-Assad: Penerus yang Tidak Terduga
Bashar al-Assad lahir pada 11 September 1965, sebagai anak kedua dari Hafez al-Assad. Sebelumnya, saudara tertua Bashar, Bassel al-Assad, dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya. Bassel adalah seorang perwira militer yang sangat ambisius dan dianggap sebagai calon presiden yang lebih siap. Namun, pada tahun 1994, Bassel meninggal dalam kecelakaan mobil yang mengubah arah penerus politik keluarga Assad.
Setelah kematian Bassel, Hafez al-Assad mulai mempertimbangkan untuk menunjuk Bashar sebagai penerus. Meskipun Bashar sebelumnya tidak terlibat dalam politik atau militer, Hafez memutuskan untuk memberinya pelatihan politik dan militer yang intensif. Sebelum memasuki dunia politik, Bashar adalah seorang dokter mata yang menyelesaikan pendidikan medis di Suriah dan kemudian melanjutkan studi di Inggris. Pada awalnya, ia lebih fokus pada karier kedokterannya, tetapi setelah saudara tertuanya meninggal, Bashar dipilih untuk menggantikan posisi tersebut.
Pada tahun 2000, Hafez al-Assad meninggal dunia setelah bertahan sakit. Pemerintahan Suriah kemudian dipindahkan kepada Bashar al-Assad. Meskipun pada awalnya banyak yang meragukan kapasitas Bashar untuk memimpin negara yang sangat terkonsolidasi ini, ia segera mengambil alih dan melanjutkan warisan ayahnya.
Bashar al-Assad pada awalnya dikenal dengan sikap yang lebih moderat dibandingkan dengan ayahnya. Ia berjanji untuk melakukan reformasi dan modernisasi di Suriah, termasuk membuka ruang untuk kebebasan politik dan perbaikan ekonomi. Namun, perubahan ini ternyata terbatas dan lebih bersifat kosmetik. Pada kenyataannya, Bashar melanjutkan kebijakan otoriter ayahnya dengan cara yang serupa, seperti memperkuat kontrol atas media, melarang oposisi, dan menggunakan pasukan keamanan untuk mengatasi setiap ancaman terhadap pemerintahannya.
4. Kebijakan dalam Negeri: Pengendalian dan Represi
Bashar al-Assad sejak awal berfokus pada pengendalian negara melalui sistem yang mirip dengan yang diterapkan ayahnya. Dia memanfaatkan aliansi dengan kelompok-kelompok elit yang setia pada keluarga Assad, terutama di kalangan Alawit dan militer. Selain itu, Bashar terus mempertahankan kekuasaan melalui lembaga-lembaga keamanan, yang memiliki wewenang untuk memata-matai dan menindas setiap bentuk perlawanan.
Meskipun ada harapan pada awal pemerintahan Bashar untuk melonggarkan cengkeraman otoriter, ia segera membuktikan bahwa reformasi yang ia janjikan tidak terwujud secara substansial. Pemberontakan dan oposisi terhadap pemerintahannya masih dianggap sebagai ancaman besar, dan dengan demikian, Bashar tidak ragu untuk menggunakan kekuatan militer dan pasukan keamanan untuk menindak tegas siapa pun yang menentang rezimnya.
Bashar juga mengendalikan sektor ekonomi Suriah dengan sangat ketat. Meski Suriah melakukan beberapa langkah liberalisasi ekonomi pada tahun 2000-an, sektor-sektor strategis tetap berada dalam genggaman tangan pemerintah. Kebijakan ekonomi tersebut sering kali memberi keuntungan bagi kelompok-kelompok elit yang mendukung Assad.
5. Perang Saudara Suriah dan Tantangan Global
Pada tahun 2011, gelombang protes yang dikenal sebagai “Arab Spring” mengguncang banyak negara di Timur Tengah, dan Suriah tidak terkecuali. Protes anti-pemerintah yang dimulai sebagai permintaan untuk reformasi segera berkembang menjadi pemberontakan yang lebih luas. Namun, Bashar al-Assad menanggapi protes ini dengan kekerasan militer yang brutal, yang akhirnya memicu perang saudara yang masih berlangsung hingga saat ini.
Pemerintah Bashar al-Assad menggunakan segala cara untuk menanggulangi pemberontak, mulai dari serangan udara, pengepungan kota-kota besar, hingga penggunaan senjata kimia. Kekerasan yang meluas selama perang saudara telah menyebabkan ratusan ribu orang tewas dan jutaan orang mengungsi baik di dalam maupun di luar Suriah.
Meskipun pemerintah Suriah tampak terpojok pada beberapa titik, Bashar al-Assad berhasil bertahan berkat dukungan dari sekutu-sekutunya, terutama Iran dan Rusia. Kedua negara ini memberikan bantuan militer, ekonomi, dan politik yang sangat penting untuk mempertahankan kekuasaannya. Dukungan dari milisi-milisi pro-pemerintah dan aliansi dengan pasukan Rusia dan Iran memberikan Bashar kemampuan untuk melawan pemberontak, meskipun Suriah telah hancur secara ekonomi dan sosial.
6. Kekuasaan Keluarga Assad dan Masa Depan Suriah
Keluarga Assad tetap menjadi simbol kekuasaan yang sangat terkonsolidasi di Suriah. Meskipun negara ini telah hancur akibat perang saudara yang berlangsung selama lebih dari satu dekade, Bashar al-Assad tampaknya masih berusaha untuk mempertahankan kedudukannya. Pemerintahan Assad sangat bergantung pada loyalitas kelompok-kelompok elit Alawit, militer, dan pasukan keamanan yang loyal.
Bashar terus berusaha untuk memperkuat posisinya melalui kebijakan yang ketat dan hubungan yang lebih erat dengan sekutu-sekutunya, terutama Rusia dan Iran. Meski demikian, masa depan Suriah tetap penuh ketidakpastian. Negara ini sedang berjuang dengan rekonstruksi pascaperang yang besar, ketegangan internal, dan hubungan luar negeri yang semakin terisolasi.
Keluarga Assad, yang telah memerintah Suriah selama lebih dari lima dekade, masih menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh, meskipun banyak kritik internasional terhadap metode pemerintahan mereka. Kekuatan mereka tidak hanya tercermin dalam kontrol politik, tetapi juga dalam sistem militer, keamanan, dan ekonomi yang telah mereka bangun dan pertahankan.
Kesimpulan
Keluarga Assad, melalui kepemimpinan Hafez al-Assad yang otoriter dan kemudian diteruskan oleh putranya Bashar, telah mengendalikan Suriah dengan cara yang sangat terpusat dan represif. Meskipun ada harapan untuk reformasi pada awal pemerintahan Bashar, kenyataannya adalah bahwa rezim Assad terus mempertahankan cengkeraman kekuasaan dengan cara yang serupa dengan ayahnya, terutama melalui militer dan badan keamanan.
Perang saudara yang telah berlangsung lebih dari satu dekade telah menghancurkan Suriah, tetapi Bashar al-Assad tetap bertahan berkat dukungan dari sekutunya, terutama Rusia dan Iran. Keluarga Assad tetap menjadi simbol dari rezim yang sangat terkontrol dan otoriter, dengan kekuasaan yang terus berlangsung meskipun negara ini berada dalam kehancuran. Ke depan, masa depan Suriah dan keluarga Assad tetap penuh ketidakpastian, dengan berbagai tantangan besar yang harus dihadapi.
