JAKARTA, 561VOICE.COM – Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, Miftah Maulana Habiburrahman, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah videonya yang menghina seorang pedagang es teh viral di media sosial. Permintaan maaf itu diungkapkan melalui sebuah video berdurasi 1 menit 33 detik yang diunggah di akun YouTube KH Entertainment.
Permintaan Maaf Miftah
Dalam video tersebut, Miftah mengakui kekhilafannya dan menyatakan penyesalan atas komentar yang dinilai tidak pantas. Ia juga menegaskan bahwa tindakannya tersebut tidak mencerminkan niat jahat, melainkan hanya kebiasaannya yang sering bercanda.
“Saya dengan tulus meminta maaf kepada pedagang es teh yang saya komentari dalam acara tersebut. Saya menyadari bahwa candaan saya tidak pantas dan menyinggung perasaan,” ujar Miftah dalam video permintaan maafnya.
Lebih lanjut, Miftah menyebut bahwa dirinya telah mendapatkan teguran langsung dari Sekretaris Kabinet Mayor Teddy Indra Wijaya, yang mengingatkan agar ia lebih berhati-hati dalam berbicara di depan umum.
Konteks Insiden
Insiden ini bermula saat Miftah menghadiri sebuah acara pengajian di Magelang, Jawa Tengah, pada Rabu (20/11/2024). Dalam acara yang dihadiri ribuan orang tersebut, Miftah mengomentari seorang pedagang es teh, Sunhaji, yang sedang berjualan di sekitar lokasi. Komentar tersebut dianggap merendahkan dan membuat Sunhaji merasa terhina.
Video kejadian ini kemudian menyebar luas di media sosial, memicu reaksi keras dari masyarakat yang mengkritik sikap Miftah sebagai seorang tokoh publik dan ulama.
Respons Sekretaris Kabinet
Mayor Teddy Indra Wijaya, sebagai perwakilan dari pemerintah, turut angkat bicara mengenai kejadian ini. Ia menegaskan bahwa pejabat publik, khususnya yang menjabat posisi strategis seperti Miftah, harus menjaga tutur kata dan sensitivitas terhadap masyarakat.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang di masa mendatang. Seorang utusan khusus Presiden memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi teladan bagi masyarakat,” kata Mayor Teddy.
Tanggapan Sunhaji dan Masyarakat
Sementara itu, Sunhaji, pedagang es teh yang menjadi objek komentar Miftah, menyambut baik permintaan maaf tersebut. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih saling menghormati.
“Saya menerima permintaan maaf beliau. Kita semua manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan,” ujarnya saat dihubungi oleh wartawan.
Namun, masyarakat di media sosial masih terbelah. Sebagian besar memuji langkah Miftah untuk meminta maaf, tetapi ada pula yang mengkritik bahwa insiden ini menunjukkan kurangnya sensitivitas terhadap profesi kecil.
Pelajaran dan Harapan
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kehormatan setiap profesi, tak peduli seberapa sederhana profesi tersebut. Sebagai tokoh publik, komentar dan sikap Miftah menjadi sorotan utama, dan insiden ini diharapkan menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih berhati-hati di masa depan.
Permintaan maaf yang tulus dan keterbukaan untuk menerima teguran adalah langkah awal yang positif. Kini, masyarakat berharap bahwa insiden ini dapat menjadi momentum untuk mempererat rasa saling menghormati di tengah masyarakat Indonesia. Semua profesi layak dihargai, tanpa kecuali.
