Daftar Isi
Toggle561voice.com 21 Febuari 2025
Sejarah Kelam Berdirinya Negara Ukraina: Dari Penjajahan Hingga Perang Modern

Ukraina, negara yang terletak di Eropa Timur, memiliki sejarah yang panjang, penuh dengan peristiwa yang mengubah nasibnya. Dari perang, kelaparan, hingga ketegangan politik, Ukraina telah melewati perjalanan yang sangat keras untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan. Proses panjang ini penuh dengan pengaruh besar dari kekaisaran-kekaisaran besar dan negara-negara yang ingin menguasai wilayah strategisnya. Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang sejarah kelam Ukraina, perjuangannya untuk kemerdekaan, serta tantangan yang dihadapinya, baik di masa lalu maupun masa kini.
1. Pemerintahan dan Penjajahan Awal: Kekaisaran dan Perjuangan Cossack

Wilayah yang sekarang menjadi Ukraina telah dihuni oleh berbagai suku sejak zaman kuno. Namun, selama abad pertengahan, wilayah ini mulai terlibat dalam berbagai konflik politik yang melibatkan negara-negara besar. Salah satu kelompok yang memainkan peran penting dalam sejarah Ukraina adalah Cossack. Cossack adalah kelompok militer dan sosial yang memiliki tradisi kebebasan dan kemandirian, terutama di wilayah selatan Ukraina. Mereka memperjuangkan kebebasan mereka terhadap pengaruh asing, terutama dari Kekaisaran Polandia dan Kekaisaran Rusia.
Pada abad ke-17, Cossack yang dipimpin oleh Bohdan Khmelnytsky melakukan pemberontakan besar terhadap Kekaisaran Polandia. Namun, dalam prosesnya, mereka akhirnya terpaksa menyetujui perjanjian dengan Tsar Rusia pada 1654 yang dikenal dengan nama Perjanjian Pereyaslav. Dalam perjanjian ini, Cossack Ukraina setuju untuk berada di bawah perlindungan Rusia. Namun, meskipun mengklaim kemerdekaan, Ukraina secara efektif menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia setelah perjanjian ini. Ketergantungan Ukraina pada Rusia semakin dalam setelahnya, dan banyak orang Ukraina merasa kehilangan kebebasan sejati mereka.
2. Ukraina di Bawah Kekaisaran Rusia: Penindasan Budaya dan Sosial

Pada abad ke-18 dan ke-19, Ukraina menjadi bagian yang semakin terintegrasi dalam Kekaisaran Rusia. Meskipun ada beberapa upaya untuk mempertahankan kebudayaan dan identitas Ukraina, di bawah pemerintahan Rusia, banyak aspek kehidupan sosial, budaya, dan politik Ukraina dihancurkan. Penggunaan bahasa Ukraina dilarang dalam banyak aspek kehidupan resmi, dan sistem pendidikan serta media dikendalikan oleh pemerintah Rusia. Banyak orang Ukraina dipaksa untuk mengadopsi budaya Rusia, dan budaya tradisional Ukraina hampir lenyap dari kehidupan sehari-hari.
Pada akhir abad ke-19, munculnya gerakan nasionalisme Ukraina menjadi tanda awal dari ketegangan yang lebih besar. Intelektual dan aktivis mulai menggalakkan pentingnya bahasa dan budaya Ukraina, serta memperjuangkan kemerdekaan dari pengaruh Rusia. Namun, gerakan ini dihadapkan pada kekuatan yang jauh lebih besar, yakni kekaisaran Rusia yang tidak mau kehilangan kontrol atas Ukraina.
3. Awal Abad ke-20: Revolusi, Kemerdekaan Sementara, dan Perang Dunia I
Pada awal abad ke-20, dunia diperhadapkan dengan gejolak besar yang terjadi akibat Perang Dunia I dan Revolusi Rusia. Setelah runtuhnya Kekaisaran Rusia pada 1917, Ukraina memanfaatkan kesempatan untuk mendeklarasikan kemerdekaannya. Pada Januari 1918, Republik Rakyat Ukraina diumumkan, dengan pemimpin-pemimpin Ukraina berusaha untuk mendirikan sebuah negara merdeka. Namun, keadaan politik yang tidak stabil di Rusia, yang dilanda Revolusi Bolshevik, menyebabkan perjuangan kemerdekaan Ukraina menjadi lebih sulit.
Ukraina kemudian terjerumus dalam perang saudara yang mengerikan, di mana kelompok-kelompok yang berbeda, termasuk Bolshevik (pendukung revolusi komunis), pasukan Cossack, dan kekuatan-kekuatan asing lainnya, berjuang untuk mengendalikan wilayah Ukraina. Pada 1922, setelah perjuangan panjang, Ukraina akhirnya bergabung dengan Uni Soviet yang baru dibentuk, meskipun dengan beberapa otonomi terbatas.
4. Holodomor: Genosida yang Menghancurkan Rakyat Ukraina
Salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Ukraina adalah Holodomor, sebuah kelaparan besar yang terjadi pada 1932-1933 di bawah pemerintahan Joseph Stalin. Selama periode ini, kebijakan kolektivisasi pertanian yang keras dipaksakan oleh pemerintah Soviet. Tanaman dan hasil pertanian Ukraina dipaksa untuk diserahkan kepada negara, dan distribusi makanan untuk rakyat Ukraina sangat dibatasi. Akibat kebijakan ini, jutaan orang Ukraina meninggal akibat kelaparan yang dahsyat.
Holodomor diyakini oleh banyak sejarawan sebagai tindakan genosida yang disengaja oleh pemerintah Soviet, yang bertujuan untuk menghancurkan kebangkitan nasionalisme Ukraina dan menundukkan negara ini ke dalam cengkeraman penuh Uni Soviet. Meski kebijakan tersebut diterapkan di seluruh wilayah Soviet, kelaparan yang terjadi di Ukraina adalah yang paling parah. Holodomor tetap menjadi luka sejarah yang mendalam bagi bangsa Ukraina, dan hingga hari ini masih ada perdebatan internasional mengenai pengakuan Holodomor sebagai genosida.
5. Perang Dunia II dan Perjuangan Bersama Uni Soviet
Pada masa Perang Dunia II, Ukraina menjadi medan pertempuran penting antara pasukan Jerman Nazi dan Uni Soviet. Selama pendudukan Nazi, banyak orang Ukraina menderita di bawah kebijakan genosida yang dijalankan oleh pasukan Jerman, yang membantai banyak orang Yahudi dan kelompok minoritas lainnya di wilayah Ukraina. Banyak orang Ukraina yang bergabung dengan gerakan perlawanan terhadap penjajahan Nazi, namun setelah kekalahan Jerman, wilayah Ukraina kembali berada di bawah kontrol Uni Soviet.

Setelah perang, meskipun banyak orang Ukraina menginginkan kebebasan dari pengaruh Soviet, pemerintah Soviet tetap mengontrol negara ini. Selama periode ini, terjadi banyak penindasan terhadap mereka yang dianggap “anti-Soviet”, dan kebijakan ekonomi yang keras terus diimplementasikan. Namun, meskipun ada penindasan, beberapa daerah Ukraina, terutama di kota-kota besar, mulai berkembang secara industri.
6. Kemerdekaan Ukraina 1991: Akhir dari Era Soviet
Setelah berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet pada 1991, Ukraina akhirnya mendeklarasikan kemerdekaannya pada 24 Agustus 1991. Deklarasi ini mengakhiri lebih dari tujuh dekade dominasi Soviet atas Ukraina dan membuka jalan bagi negara ini untuk membentuk identitasnya sendiri sebagai negara merdeka.
Namun, meskipun Ukraina merdeka, tantangan besar langsung muncul. Negara ini harus menghadapi banyak masalah internal, termasuk korupsi, ketegangan etnis, dan ketergantungan ekonomi yang berat pada Rusia. Ukraina juga terjebak dalam perdebatan tentang orientasi politiknya—apakah harus dekat dengan Barat (Uni Eropa) atau tetap berhubungan dengan Rusia. Konflik politik ini semakin memperburuk keadaan dan menyebabkan ketidakstabilan dalam pemerintahan.
7. Revolusi Oranye dan Ketegangan Politik Internal
Pada tahun 2004, Ukraina menghadapi krisis politik besar yang dikenal dengan Revolusi Oranye. Ketegangan ini dimulai setelah pemilihan presiden yang diduga curang, yang memenangkan Viktor Yanukovych, seorang calon yang didukung oleh Rusia. Pemilu tersebut memicu protes besar-besaran di seluruh negeri, yang dikenal sebagai Revolusi Oranye, di mana banyak warga Ukraina menuntut pemilu ulang dan perubahan sistem politik.

Hasil dari Revolusi Oranye adalah pemilihan Viktor Yushchenko sebagai presiden, seorang tokoh yang lebih berpihak pada kebijakan pro-Barat. Namun, meskipun diharapkan membawa perubahan, pemerintahan Yushchenko tidak dapat mengatasi tantangan politik dan ekonomi yang dihadapi negara. Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Yushchenko mengarah pada pemilihan kembali Viktor Yanukovych pada 2010, yang kembali menarik Ukraina lebih dekat dengan Rusia.
8. Euromaidan dan Perpecahan dengan Rusia
Pada tahun 2013, krisis politik di Ukraina mencapai puncaknya dengan munculnya Protes Euromaidan. Protes ini dimulai setelah keputusan Presiden Yanukovych untuk menangguhkan perjanjian asosiasi dengan Uni Eropa, yang dianggap sebagai langkah mundur bagi Ukraina yang ingin lebih dekat dengan Eropa dan meninggalkan pengaruh Rusia. Warga Ukraina, khususnya di Kyiv, turun ke jalan menuntut perubahan politik dan menuju integrasi lebih dekat dengan Uni Eropa.
Protes ini akhirnya berubah menjadi Revolusi Ukraina 2014, yang berakhir dengan penggulingan Yanukovych pada Februari 2014. Namun, kekosongan politik yang ditinggalkan oleh Yanukovych memicu ketegangan besar antara Ukraina dan Rusia. Krisis Krimea dimulai setelah Rusia secara ilegal mencaplok Krimea pada Maret 2014, yang mengarah pada ketegangan yang lebih besar antara kedua negara.
9. Perang di Donbas dan Konflik dengan Rusia

Setelah pencaplokan Krimea, wilayah Donbas di timur Ukraina menjadi pusat pertempuran antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia yang didukung oleh Rusia. Perang ini, yang dikenal sebagai Perang Donbas, telah menyebabkan ribuan kematian dan menghancurkan sebagian besar wilayah timur Ukraina.
Meski ada gencatan senjata yang dicapai melalui Perjanjian Minsk, ketegangan di timur Ukraina tidak kunjung reda, dan Rusia terus memberikan dukungan kepada kelompok separatis. Keadaan ini terus memburuk, mengarah pada invasi Rusia yang lebih besar ke Ukraina pada Februari 2022, yang memicu perang penuh antara kedua negara.
10. Perang Ukraina-Rusia 2022: Perjuangan untuk Kemerdekaan
Pada 24 Februari 2022, Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke Ukraina, yang memicu perang penuh antara kedua negara. Invasi ini mengguncang dunia dan memicu krisis kemanusiaan besar-besaran, dengan ribuan korban jiwa dan jutaan orang Ukraina terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga.
Ukraina, di bawah kepemimpinan Volodymyr Zelensky, menanggapi dengan perlawanan keras dan mendapat dukungan militer dari negara-negara Barat. Perang ini membawa dampak besar bagi geopolitik global, dengan sanksi internasional terhadap Rusia dan peningkatan ketegangan antara Rusia dan negara-negara NATO.
Perjuangan yang Belum Selesai!!!

Sejarah kelam Ukraina adalah cerita tentang ketahanan, perjuangan, dan semangat untuk merdeka dari pengaruh kekuasaan besar yang terus menerus menekan mereka. Sejak abad ke-17 hingga saat ini, Ukraina telah berjuang untuk mempertahankan identitas dan kedaulatan negaranya. Meskipun Ukraina telah merdeka pada 1991, negara ini masih harus menghadapi tantangan besar, termasuk konflik yang berlanjut dengan Rusia. Perjuangan ini, meskipun sulit, menunjukkan tekad dan keberanian bangsa Ukraina dalam menghadapi segala rintangan untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Ukraina tetap berjuang untuk mendapatkan pengakuan internasional atas hak-hak dan integritas teritorialnya, dan dunia saat ini menyaksikan negara ini berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya dari ancaman yang nyata.
