561voice.com, 24 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Sanaa, Yaman – Dalam serangkaian serangan udara yang berlangsung selama empat hari berturut-turut, militer Amerika Serikat dilaporkan menewaskan sedikitnya 92 orang di beberapa wilayah strategis di Yaman. Serangan ini ditujukan kepada kelompok-kelompok bersenjata yang oleh Washington dikategorikan sebagai ancaman teroris aktif, terutama yang berafiliasi dengan jaringan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).
Peningkatan intensitas serangan ini terjadi di tengah memburuknya kondisi keamanan di kawasan dan meningkatnya kekhawatiran akan munculnya kembali kelompok militan di celah konflik internal yang tak kunjung berakhir.
Target Serangan: Basis Militan dan Infrastruktur Dukungan

Menurut laporan dari Kementerian Pertahanan Yaman serta sumber intelijen lokal, serangan udara yang dilakukan oleh drone dan pesawat tempur AS menargetkan kamp pelatihan militan, gudang senjata, serta pos komando taktis di provinsi Marib, Al-Bayda, dan Shabwah.
Wilayah Marib, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pusat pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi, kini menjadi fokus operasi militer AS karena diduga menjadi lokasi persembunyian para militan Al-Qaeda. Di provinsi Al-Bayda, salah satu serangan paling mematikan dilaporkan menewaskan lebih dari 30 orang dalam satu malam, termasuk beberapa tokoh senior kelompok bersenjata.
Meski sebagian besar korban adalah anggota kelompok militan, laporan dari warga lokal dan organisasi kemanusiaan mengindikasikan bahwa ada pula korban dari kalangan sipil. Seorang jurnalis lokal yang berada di distrik Radaa, Al-Bayda, menyatakan bahwa beberapa rumah warga hancur akibat ledakan rudal, dan sedikitnya dua anak menjadi korban tewas.
AS: “Bagian dari Operasi Kontraterorisme Global”

Pihak militer Amerika Serikat mengonfirmasi adanya operasi udara di Yaman, namun tidak memberikan rincian lengkap terkait jumlah korban atau lokasi spesifik. Dalam pernyataan pers singkat dari Komando Sentral AS (CENTCOM), dijelaskan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari “upaya berkelanjutan untuk menekan kapasitas kelompok teroris yang beroperasi di kawasan Semenanjung Arab.”
Sejak awal 2000-an, Yaman telah menjadi salah satu titik fokus dalam strategi kontraterorisme global Amerika Serikat, terutama karena kehadiran AQAP, yang dianggap sebagai salah satu cabang Al-Qaeda paling berbahaya dan aktif. Kelompok ini bertanggung jawab atas sejumlah rencana serangan internasional dan juga aktivitas lokal yang mengancam stabilitas kawasan.
Namun demikian, para analis mempertanyakan efektivitas pendekatan militer semata dalam menumpas jaringan terorisme, terutama di negara yang sedang mengalami kehancuran struktur negara dan institusi publik.
Korban Sipil dan Reaksi dari Dunia Internasional

Kekhawatiran utama dari komunitas internasional adalah potensi jatuhnya korban sipil akibat serangan udara yang sering kali dilakukan berdasarkan informasi intelijen yang minim verifikasi lapangan. Kelompok Human Rights Watch dan Amnesty International telah menyerukan penyelidikan independen atas semua insiden yang diduga melibatkan korban non-kombatan.
Seorang peneliti senior Amnesty untuk Timur Tengah, dalam pernyataan resminya, mengatakan:
“Setiap serangan yang dilakukan harus mematuhi hukum humaniter internasional. Korban sipil harus dicegah, dan bila terjadi, penyelidikan harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Penggunaan kekuatan mematikan tidak boleh dilakukan tanpa pertimbangan matang terhadap dampak kemanusiaannya.”
Konflik Yaman: Latar Belakang yang Rumit

Yaman telah berada dalam konflik bersenjata sejak tahun 2015, ketika koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi melancarkan operasi terhadap kelompok pemberontak Houthi yang berhasil merebut ibu kota Sanaa dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Sejak saat itu, negara tersebut terjebak dalam perang berkepanjangan antara berbagai faksi – termasuk pasukan pemerintah yang didukung Saudi, Houthi yang didukung Iran, dan kelompok militan seperti AQAP serta ISIS.
Konflik ini telah menyebabkan lebih dari 370.000 orang tewas (langsung maupun tidak langsung) dan lebih dari 80 persen populasi Yaman bergantung pada bantuan kemanusiaan, menurut data dari PBB.
Serangan udara AS, meski ditujukan untuk memerangi terorisme, berpotensi memperburuk sentimen anti-Barat di kalangan masyarakat Yaman dan menciptakan siklus kekerasan baru jika tidak diiringi strategi rekonstruksi dan dialog politik.
Apa Selanjutnya?

Para pengamat internasional memperingatkan bahwa pendekatan militer semata tanpa solusi politik yang menyeluruh tidak akan membawa perdamaian jangka panjang di Yaman. Upaya diplomatik yang melibatkan semua faksi politik serta aktor regional seperti Arab Saudi dan Iran dianggap sebagai kunci untuk mengakhiri konflik yang telah menghancurkan negara ini selama hampir satu dekade.
Selain itu, seruan untuk meningkatkan akuntabilitas dalam setiap operasi militer semakin menguat. Banyak pihak mendesak agar semua negara, termasuk Amerika Serikat, lebih transparan dalam menjelaskan dasar hukum, target, dan akibat dari setiap tindakan militer yang diambil di wilayah konflik.
Penutup
Dengan 92 orang tewas dalam waktu kurang dari satu minggu, serangan terbaru AS di Yaman menjadi pengingat betapa rapuhnya kondisi keamanan di negara yang dilanda konflik multi-faksi ini. Di tengah seruan perdamaian dan diplomasi, eskalasi militer seperti ini justru memperbesar risiko krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Masyarakat internasional, melalui lembaga-lembaga seperti PBB dan organisasi kemanusiaan, ditantang untuk memberikan tekanan lebih besar demi mendorong gencatan senjata permanen dan penyelesaian damai yang berkeadilan bagi rakyat Yaman.
BACA JUGA: Pesawat Delta Air Terbakar di Bandara Florida, 294 Orang Terdampak
BACA JUGA: Pemindahan ASN ke IKN Ditunda: Alasan, Proses, dan Dampak Penundaan
BACA JUGA: Rekaman Asli: Kenyataan Brutal Perang Vietnam – Amerika, Jerman, dan Soviet
